My Super-Duper-Superhero

dandelion notes

Kepada, Papa.

Papa, aku baru saja selesai menonton acara Superman Return, serial televisi tentang bagaimana ayah tinggal dengan anaknya yang masih kecil selama empat puluh delapan jam tanpa ibu mereka. Para ayah itu kebingungan, bagaimana menghadapi anak balita mereka, dengan raung tangisnya, rajuk manjanya, dan segala kerepotannya.

Aku jadi teringat, apa yang aku tanyakan pada papa, sekitar sebulan lalu di supermarket. Apa aku dulu sering dibelikan berbagai macam bubur yang terpajang di etalase supermarket itu? Papa tertawa. Papa ingat tidak, papa jawab apa?

.

“Jangankan bubur. Namanya juga anak pertama, apa aja papa turutin. Susu aja kamu belinya macam-macam. Cuma karna boneka hadiahnya itu, padahal kamu nggak suka susunya.”

.

Aku diam, tersenyum, menggandeng tangan papa yang kokoh erat-erat.

Sejujurnya, pa. aku tidak ingat bagaimana masa kecilku. Tapi tentu aku ingat bagaimana cerita-cerita kebaikan papa. Tentang papa yang tiap sore tergopoh-gopoh pulang kerja, dan aku akan berlari dari halaman…

View original post 354 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s