Seribu

Kata-Kata Dicta

“Aku sudah membusuk karena menunggu.”

“Menunggu berapa lama?”

“Seribu tahun lamanya.”

Senja itu dua pasang kaki kita kembali separuh basah di tepi empang. Matamu kembali murung, dan aku kembali termenung. Meski terlihat beda, alasan kita sama.

Menunggu.

“Benarkah? Rasanya baru kemarin kita main layang-layang di lapangan bola kampung.”

“Kamu tidak tahu rasanya jatuh cinta, Arka.”

Aku tersenyum, menelan sembilu.

“Dia lelaki pertamaku, pun kuyakin yang terakhir. Dia pangeran impianku.”

“Tapi pangeran impian hanya ada di dalam mimpi,” selaku untuk yang keseribu kalinya.

“Aku tak peduli. Mau mimpi kek, kenyataan kek. Aku ingin cuman dia.” Mata kenarimu berkilat. “Aku yakin dia bakal kejar aku sampai sini.”

“Tapi dia gak tahu kampung ini kan?”

Kamu terdiam. Mungkin teringat lagi di benakmu kala kamu nekat merantau ke negeri tetangga. Beralasan menjadi TKI, tapi kutahu kamu hanya ingin mengejar mimpi semalammu tentang suami orang berada. Barang tentu, untuk mendapatkan suami yang seperti itu kamu…

View original post 152 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s