Mars

Not My Cup Of Tea

WARNING: M-Rated. Crime scene. Physical Abuse.
___________


Sekali seumur hidup, aku memperhatikan dinding berbusa setebal lima senti itu. Partisi yang seharusnya menyumpal ringkingan Russell dari bilik rekam. Ada sebuah poster yang tergantung di pojok sana. David Bowie dengan rambut merah manyala, celak menor yang melabur sepasang mata, pun sebuah imajinasi tolol mengenai penakluk angkasa.

“Zig?” Ada dua yang tercetus di otakku; namaku yang dipanggil atau ia malah berpikir bahwa poster bertuliskan Ziggy Stardust itu baru saja akan balik membalas ucapannya.

“Hmm?” sahutku. Kepalaku pengar. Terlalu banyak konspirasi yang terjadi, antara Mayfair dan Marlboro. Ia baru saja mengoplos bungkus biru itu menjadi satu.

Punggung itu masih belum berbalik. Telanjang sama seperti diriku. Torso sempurna. Ia menggial dengan permainan pelik di kepalanya. Aku masih bertanya-tanya, mengapa ia tertawa? Apa karena ia berhasil menjebakku? Menanggalkan bajuku satu per satu? Anggap saja ia menang taruhan atau roulette Rusia.

Tulangku terasa berderak kala aku berbalik…

View original post 4,810 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s