SEBAGAIMANA MALAM HARUS DIPERLAKUKAN.

Not My Cup Of Tea

Perdebatan kami adalah seputar loteng atas. Tentang malam-malam yang tak pernah surut. Dan bagaimana seharusnya malam-malam itu diperlakukan. Menggerataki linoleum; meramban lapel; lantas menemukan tempat bibir untuk berlabuh.

Dinding kasar menggasak utar di balik baju. Manik itu berwarna biru. Di dalam kamar gelap, aku mengenal sesuatu. Orasi sembilan puluh. Kala di mana puntung tak kunjung layu. Pemantik terus berujar, pun percik batu.

Orasi sembilan puluh. Seseorang memagut bibirku. Menggoyangkan pinggul seolah-olah akulah sesuatu yang baru. Menelusup di antara pintu. Dan menemukan kejang di antara speaker saru.

Tak mudah keluar dari lingkar polkadot sembilan puluh. Sebagaimana Marlboro tercucuh, seseorang perlu teringat akan satu. Sembilan puluh adalah AM alih-alih FM yang berkemendang tangga empat puluh. Terlalu banyak malam yang terkunyah tanpa tahu. Melilit tungkai; menari rancak; tanpa dentam yang padu.

Bergelimang kata tanpa melodi. Tanpa ekspresi Ibanez dan gebung drum eksperimental Selway. Perdebatan kami bukan sekadar ruang di loteng atas. Tapi tentang…

View original post 15 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s