Sunshine

Kata-Kata Dicta

“Morning, Sunshine…”

Kecupan di pipi, senyuman manis, pelukan hangat. Ada dua cangkir kopi di atas meja dan beberapa tangkup roti bakar setengah gosong kegemaranmu.

“Morning,” balasku sembari mengulum senyum.

Pagi yang biasanya. Indah di pandang mata. Tetangga iri, aku tersenyum pongah.

“Malam ini jadi kan, Man?”

“Nonton Opera?”

Aku mengangguk, senyummu melebar.

“Jadi dong, mana bisa aku lupa hari jadi pernikahan kita.”

Aku terkekeh sedikit tersipu. Meja makan hening, dua mulut mengunyah. Terlihat normal. Tapi ada yang tidak kalian ketahui. Ada hati yang patah di sini.

“Aku udah selesai. Berangkat dulu ya, Sunshine…”

Kamu berdiri, aku pun berdiri, mengiringimu masuk ke dalam mobil. Sekali lagi, kecupan di pipi, bisikan mesra, dan panggilan ‘Sunshine’. Kamu berlalu menyisiri jalan, entah tertuju pada apa atau siapa.

‘Aku pengen kamu jadi sinar matahari di duniaku, makanya kamu kupanggil Sunshine.’

Kuingat betul alasan indah itu, selalu membuat hatiku berdebar tatkala mengingatnya. Hingga akhirnya aku tahu…

View original post 79 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s